Sunday, September 25, 2011

Politik Iblis

Diposkan oleh onedha madan di 10:12 PM
Oleh Fuad Rumi
Tatkala Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan para malaikat bersujud kepada Adam, ketika masih di surga, para malaikat bersujud. Hanya satu yang membangkang. Dialah iblis.
Ketika Allah bertanya apa alasan iblis, dia berkata, “Aku lebih baik dari dia (Adam), Engkau ciptakan aku dari api dan menciptakan dia (hanya) dari tanah.” Iblis sombong merasa lebih mulia karena asal-usul kejadian.
Selain sombong, ia menyimpan kedengkian kepada Adam. Iblis tidak senang melihat Adam mendapat kenikmatan dan kesenangan. Begitulah sifat dengki, tidak senang melihat pihak lain memperoleh kebaikan atau kenikmatan.


Iblis lalu berniat menjatuhkan Adam. Tapi iblis cerdik dan licik. Ia tidak menampilkan dirinya kepada Adam sebagai musuh. Bahkan sebaliknya, ia menawarkan diri dengan kata-kata meyakinkan, ingin menjadi penasihat bagi Adam. “Sesungguhnya aku ini adalah penasihat untuk kamu berdua,” kata iblis kepada Adam dan istrinya Hawa.
Pada kesempatan yang lain, iblis mulai merayu Adam. Dia berkata, “Hai Adam, maukah engkau aku tunjukkan pohon kekekalan dan kerajaan yang tidak akan sirna?” Lalu iblis menunjuk pohon yang telah diwanti-wantikan Allah agar tidak didekati, sebab merugikan diri Adam sendiri.
Tapi Adam lebih tergiur dengan tawaran kekekalan dalam kenikmatan surga. Adam lebih menyukai kekuasaan yang langgeng. Apalagi, pada kesempatan lain, iblis sok sebagai analis berkata pada Adam, “Aku tak melihat Tuhan melarang engkau mendekati pohon itu, kecuali agar engkau tidak menjadi malaikat atau kekal di surga ini.”

Janji indah yang merangsang nafsu membuat manusia lupa pada perintah Tuhan. Kekuasaan dan kekekalan adalah sesuatu yang menggiurkan manusia. Itulah yang pertama kali terjadi pada manusia pertama, Adam dan istrinya Hawa. Drama kejatuhan karena ketergiuran terhadap kekuasaan dan nafsu untuk langgeng berkuasa itulah yang terus berlanjut dalam sejarah kehidupan manusia.
Adam dan istrinya telah makan buah pohon khuldi. Akibatnya, pakaiannya serta-merta melorot sehingga aurat mereka terbuka. Secepat auratnya terbuka, secepat itu pula mereka meraih daun-daun pohon sebagai penutup. Sebab, bagi manusia, ketika aurat terbuka memang yang seharusnya muncul adalah perasaan malu.
Pelanggaran berakibat terbukanya aib, dan aib harus ditutupi. Tapi sekali aib sudah terbuka, langkah yang bisa ditempuh untuk menutupnya seketika hanyalah langkah darurat, yang tidak mengembalikan pada keadaan semula. Pakaian daun-daun pohon adalah pakaian darurat untuk menutupi aib. Aib adalah sesuatu yang membuat manusia malu apabila terbuka. Ketaatan pada iblis yang mengalahkan ketaatan pada Allah adalah aib bagi manusia. Itu seharusnya disadari oleh manusia sebagai sesuatu yang memalukan.
Iblis bergembira karena rencana liciknya menjatuhkan Adam berhasil gemilang. Rencana licik yang disusun amat menarik dan dijalankan dengan bahasa indah penuh tipu daya. Rupanya, iblis adalah perancang pertama politik untuk menjatuhkan lawan dengan cara-cara menipu dan menjebak lawan dalam ketergiuran. Politik iblis semacam inilah yang bermutasi dan terus berulang kali diperagakan manusia sekarang.
Politik iblis diadopsi manusia secara lebih canggih. Bahkan saking canggihnya, politik iblis yang diperankan manusia membuat kita bingung menilai mana iblisnya, mana manusianya. Masalahnya, iblis kembali berperan lebih hebat lagi, berpindah-pindah dari satu kubu ke kubu yang lain. Atau secara bersamaan berada pada semua kubu, lalu mengadu manusia seperti manusia mengadu domba atau jangkrik. Drama iblis dan Adam di surga itu tampaknya terus berlanjut hingga sekarang.
Politik iblis ternyata bisa diperankan oleh manusia dengan cara yang lebih canggih. Jargon “ana khairun minhu” yang semula milik otentik iblis, kini disematkan manusia sebagai “pin keangkuhan” di dadanya. Manusia tidak mau dikalahkan. Manusia ingin langgeng berkuasa. Dan untuk itu politik iblis terus-menerus diformat menjadi lebih canggih.
Mari kita saksikan terus sepak terjangnya dalam pergulatan perebutan kekuasaan yang sedang ramai-ramainya di berbagai belahan bumi sekarang ini. Saksikanlah para penguasa yang mati-matian ingin mempertahankan kekuasaannya kendati pun ia sudah digoyang habis-habisan oleh rakyatnya untuk turun. Saksikan pula bagaimana iblis mengkili-kili nafsu keserakahan mereka yang ingin memanfaatkan kegaduhan goyang-menggoyang, kekuasaan mengangkangi kekayaan alam negeri-negeri yang sedang gaduh itu. * SUARA HIDAYATULLAH, MEI 2011

0 komentar:

Post a Comment

 

Copyright © 2011 INTERNET IS MONEY | Design by Kenga Ads-template